Wednesday, May 24, 2006

Kelas Unggulan

Tahun ajaran Baru. Kelas Baru.
Seperti biasa Iqbal ke sekolah diantar Ayah. Cuma di drop.
Hari itu rasanya biasa saja. Seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sampai dengan malamnya Iqbal bilang “ Abang sekarang di 5C, Bun. kelas unggulan.”
Wow ! Suatu kejutan!!

Keesok paginya aku insist untuk mengantar Iqbal.
Setelah Iqbal turun di gerbang, kuparkir mobil.
Aku mengintip isi kelas unggulan itu. 5C yang istimewa, karena hanya anak-anak yang dikelas 4nya rank 1-5 yang bisa masuk kesana. Dari 5 kelas pararel @ 5 anak, total 25 anak dengan perbandingan cowo cewe yang berimbang.

Bunda bangga sekaligus cemas. Banyak wajah yang cukup bunda kenal, teman-teman Iqbal dikelas 1,2,3,4 yang pernah juara, hampir semua berkumpul disitu! Atmosphere kompetisi terasa begitu kuat.

Aku telp seorang kenalan lama
“apa kabar ? anak kita sekelas lagi nih”
Rosi tertawa “kelas unggulan ? Gue udah tau sejak kemarin. Waktu ngantar Indira….Project baru dari sekolah.. Bikin stress nih kayaknya”

Saat pembagian raport bayangan yang pertama kami ngobrol dikelas dengan wali kelas 5C.
Pak guru hanya tertawa ringan menangapi concern kami. “keliatannya justru ibu-ibu yang stress nih anaknya masuk kelas unggulan. Anaknya malah biasa saja”
Kami tertawa bersama.

Anehnya seorang Ibu diantara kami, bertanya bingung
“emang ini kelas unggulan ? sejak kapan?”
Banyak tatap sinis untuknya.
Tapi aku maklum. wanita karir yang sukses tidak akan cukup punya waktu buat anak-anaknya. Time Quality and not quantity sebatas slogan. Bukan hal yang mudah diterapkan.

Punya anak yang masuk kelas unggulan seperti kami, adalah suatu hal yang harus disyukuri dengan bijaksana.

Kami sanggat bangga padamu, Nak !

2 comments:

Fino said...

Well untuk kelas unggulan ada untungnya ada engganya.. ada juga kelas unggulan yang bisa mempercepat kenaikan namanya "percepatan".. kalau untuk yang satu ini, kerugian bisa didapat pada sisi psikologi anak.
Untuk contohnya, putri dari seorang klien di kantor. Dia sudah ikut kelas percepatan sejak SMP, walhasil, dia masuk SMA pada umur +/- 14 tahun. Dan akhirnya pada waktu memilih SMA sang ortu merasa kasihan apabila dia masuk ke kelas percepatan lagi, dia akhirnya masuk ke SMA biasa.
14 tahun di bangku SMA? sudah terbayang dia akan jadi yang paling muda "teman2 dia memanggil dia anak kecil..". Dan selain itu, dari pertanyaan "aneh" dia ke ortu, disimpulkan bahwa banyak hal2 yang seharusnya dia lihat atau alami di SMP baru dia rasakan di saat dia masuk SMA karena pada saat kelas percepatan, dia tidak punya waktu untuk yang lain. I don't know how to feel bout this neither should I feel sorry or glad, that she is not too much late to getting know bout life..
My conclusion bout this.. yes, you should motivate to have achievement (especially in education formative)but don't forget that there are other formative they should achieve to make it balance in their life. Dan jangan sampai ambisi orang tua berada di baliknya.. you know what i mean ;).. might this help.. peace!!

dinda said...

bunda,
waktu SMP dan SMA aku pernah masuk dalam kelas unggulan juga, waktu itu ayah ibu sih biasa2 aja melihatnya, yg stress malah teman2 sekelas juga, krn pelajarannya lbh maju dan sulit dibanding kelas regular, lucunya kalo pas tes pasti nilainya ga jauh2 beda deh dalam sekelas hehehehehe.... kalo bagus ya bagus semuanya, kalo giliran jelek ya jelek semuanya, dan hanya satu org anak yg selalu bagus nilainya, hebat deh tuh anak :)

jd bunda jgn lupa utk buat buah hati bunda enjoy aja dalam kelas unggulan tsb yaaa....