Monday, September 08, 2008

Aim dan Afgan


Dipenghujung Minggu Lalu, kacamata Aim patah gagangnya. Mungkin getas ajah, maklum anak anak, bisa jadi setiap hati dibengkak bengkokin. Untuk mengechek apakah kacamata Aim masih akurat ukuranya, kami pergi ke dokter mata di RSPI.

Saat diperiksa oleh suster test membaca A-B-C dengan alat penentu ukuran kacamata sih dia antusias. ketawa tawa. Tapi begitu ketemu tante dokter mata yang bertugas saat itu, semuanya berubah!! Dokter mata yang masih mudah itu insist untuk melihat ada apa dibalik kelopak mata Aim, tapi Aim menolak keras. Sakit katanya. Dia menangis. Bunda cuma bisa kasihan tapi gimana lagi? Anak anak memang tidak bisa dipaksa.

Akhirnya kami keluar, tanpa diperiksa dengan tuntas. Selagi Bunda membereskan administrasi di ruang tunggu, Aim mengambil lembar evaluasi dokter, dan Bunda cuma nyengir saat Aim memilih “kurang” dan mengabaikan pilihan “baik dan “baik sekali” untuk pertanyaan tentang pelayanan dokter. Form tadi langsung dilipat dan dimasukan ke kotak saran pelayanan yang tersedia.“Duh Aim? Tante dokter tadi bisa ngga naik gaji dong kalo Aim tulis begitu” kata Bunda disambut tawa getir para suter.”Biarin!!” kata Aim ketus. Hih? Rupanya dia jengkel atas pemaksaan tante dokter barusan.

Senin ini, kacamatanya selesai, setelah menjemput Abang, kami meluncur ke Blok M Plaza. Saat memilih kacamata sabtu lalu, Aim ke optik bersama Ayah. Makanya saat diambil, Bunda surprise dengan kacamata baru Aim “ Kok jadi kayak Afgan, Aim?”

Mendengar komentar Bunda itu Aim spontan menyanyi ditempat “ Terimakasih Cinta, untuk segalanya…” duileh? Afgan bangeeed. Bunda bersama tiga petugas optik tertawa akan tingkah Aim. Sedang Abang yang teler kecapekan sekolah sambil berpuasa, cuma nyengir melihat gaya Adiknya yang flamboyant.Hih Aim.. ampun deeeh.

No comments: