Saturday, September 13, 2008
“A piece of cake” versi Abang
“Aim, kalo emang seneng, kenapa Englishmu nggak pernah bunyi? Why don’t you try talking in English with me? hey Aim? do you understand what I’m talking about ? tanya Bunda serius..
Aim menjawab pendek dan lugu “No”…disambung dengan “tuuuuuh kan bunyi, Bun” katanya dengan tampang jahil...Bunda terbahak..Ah, Aim emang Ayah banged!! pinter ngeles.
Berikutnya Aim minta beliin buku kamus sederhana, dan sesekali Bunda mengobrol dengannya in English. Supaya kupingnya terlatih, dan vocabularynya bertambah. Yang basic-basic ajah sih, soal colour, anggota badan, nama binatang, dan benda benda dikehidupan kami se hari hari. Kalo dia bingung dia buka kamus, ato biar cepet, tanya Abang yang suka mondar mandir kalo kami lagi ngobrol, asyik ya?? berasa punya kamus berjalan...
“Abang, kalo adiknnya ada kata yang ngga tau artinya, dikasih tau ya” pesan Bunda”Buka aja Alfalinknya buat bantu Abang” well, Bunda memang membekali Abang ke sekolah membawa kamus elektronik.
“yeah..a piece of cake” kata Abang dengan kalem.
“Apa itu artinya? a piece of cake?” tanya aim bingung.
Dengan nyeleneh Abang menjawab asal” kenyang…” dan kami bertiga terbahak bersama he..he.. dasar Abang gembul!! yang dipikir makanan mulu sih.”Hayo abang, be serious, please..what is that mean? Explain to him” kata Bunda, a little bit curious,eh? Abang tuh ngerti nggak sih idiom begitu?
“Itu maksudnya, gampang …mudah..sepele…dik Aim “ kata Abang gemes.
Alhamdulillah, Bunda senang, Abang mau membantu Aim belajar bahasa English, diluar yang ditentukan oleh kurikulum sekolah. Hari gene..di era globalisasi begini English is a must, bisa menolong memperluas wawasan dan membantu mempelajari ilmu lain dijenjang yang lebih tinggi. Well, mudahan semangat belajar mereka terus terjaga dan semua ilmu yang mereka pelajari bisa bermanfaat kelak dikemudia hari..Amin
Tuesday, September 09, 2008
Cepatlah Besar, Matahariku
Apadaya lampu merah perapatan pondok pinang-pondok indah-bintaro-ciputat raya mati. Macet total. Antrian pengular panjang. Bunyi klakson memenuhi udara siang di selatan kota Jakarta. Beberapa Ibu mulai turun dari mobil dengan berpayung, menghindari panas terik matahari. Mobil kami masih nyangkut di depan pondok pinang center sekitar 500 meter dari gerbang sekolah. Dengan semangat yang sama seperti Ibu-ibu lain, Bunda turun sambil berpayung. Menyelinap diantara deretan mobil yang mengantri dan dengan peluh yang mengucur deras, tibalah Bunda di halaman depan sekolah Abang.
Satu pemandangan yang membuat Bunda bergegas, Abang menangis. Abang Sulung Bunda yang saat itu berumur 6 tahun memeluk erat tas sekolahnya sambil menangis keras di depan sekolah. Ketakutan, karena sekolah sudah bubar tapi belum juga dijemput-satu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Duh? Nak..maafkan Bunda dan Ayah sayang..Abang yang kecil mungil memeluk Bunda sambil terus terisak

Itu cerita lama. Abang kini sudah menjelma jadi cowo yang sudah berani pergi sendiri dengan teman temannya “pake mobil bunda aja, minta anter supir” kata Bunda saat Abang telp ke kantor, pamit pergi nonton 21 di cinere mall “Nggak muat ah Bun, Teman Abang banyak, naik angkot aja”
Ya sudah, mereka pergi naik angkot. Pulangnya, karena mengejar magrib udah dirumah, mereka naik taxi dan Iqbal pulang membawa cerita…
“Supir taxi kita tadi kasihan lho Bun, dia belum pulang dua hari soalnya setoranya belum cukup”
“trus? Apalagi katanya” tanya Bunda. Terselip syukur dihati, Abang bisa punya interaksi dengan kehidupan nyata, yang tak selalu indah.
“Dia cerita katanya pernah ikut kontes KDI, tapi gagal soalnya nggak punya uang buat nyuap jurinya. Padahal suaranya bagus, tadi dia nyanyi dangdut buat kita hi..hi... Katanya yang menang KDI harus punya uang buat nyogok jurinya”
“Nah? Betul kan? Pada kenyataannya uang berkuasa” Kata Bunda sinis-seperti biasa.
“ Makanya kamu sekolah yang rajin, supaya nanti bisa cari uang dengan bener”. Uhm, ujungnya pesan sponsor deeh
“Eh? Salah dong Bun!!" tukas Abang cepat. “Bukannya kebenaran yang berkuasa?”
Kata-katanya menghujam tajam. Membuat Ayah otomatis mendelik kepada Bunda. Memarahi Bunda dalam diam, sebelum berucap mendukung. “Abang betul, Kebenaran yang berkuasa” Lalu dengan suara rendah Ayah berbisik pada Bunda, “Jangan pengaruhi Idealisme yang sudah dia punya. Kita harus bersyukur dia mengerti itu diusia muda”. Bunda cuma nyengir.
So? Hari ini Abang Iqbal berumur tigabelastahun. Selamat Ulang Tahun Abang, Smoga Abang kelak berhasil dalam segala cita-cita, dan bisa berpegang teguh pada idealisme yang Abang miliki. Smoga Allah selalu memberikan kesehatan, rahmat dan perlindungan pada Abang kami tercinta. Happy Birthday, Bang..We always love you..always proud of you..
well, Jadi inget sebaris lagu dari Iwan Fals..
cepatlah besar matahariku
tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
doa kami di nadimu
Monday, September 08, 2008
Aim dan Afgan

Dipenghujung Minggu Lalu, kacamata Aim patah gagangnya. Mungkin getas ajah, maklum anak anak, bisa jadi setiap hati dibengkak bengkokin. Untuk mengechek apakah kacamata Aim masih akurat ukuranya, kami pergi ke dokter mata di RSPI. Saat diperiksa oleh suster test membaca A-B-C dengan alat penentu ukuran kacamata sih dia antusias. ketawa tawa. Tapi begitu ketemu tante dokter mata yang bertugas saat itu, semuanya berubah!! Dokter mata yang masih mudah itu insist untuk melihat ada apa dibalik kelopak mata Aim, tapi Aim menolak keras. Sakit katanya. Dia menangis. Bunda cuma bisa kasihan tapi gimana lagi? Anak anak memang tidak bisa dipaksa.
Akhirnya kami keluar, tanpa diperiksa dengan tuntas. Selagi Bunda membereskan administrasi di ruang tunggu, Aim mengambil lembar evaluasi dokter, dan Bunda cuma nyengir saat Aim memilih “kurang” dan mengabaikan pilihan “baik dan “baik sekali” untuk pertanyaan tentang pelayanan dokter. Form tadi langsung dilipat dan dimasukan ke kotak saran pelayanan yang tersedia.“Duh Aim? Tante dokter tadi bisa ngga naik gaji dong kalo Aim tulis begitu” kata Bunda disambut tawa getir para suter.”Biarin!!” kata Aim ketus. Hih? Rupanya dia jengkel atas pemaksaan tante dokter barusan.
Senin ini, kacamatanya selesai, setelah menjemput Abang, kami meluncur ke Blok M Plaza. Saat memilih kacamata sabtu lalu, Aim ke optik bersama Ayah. Makanya saat diambil, Bunda surprise dengan kacamata baru Aim “ Kok jadi kayak Afgan, Aim?”
Mendengar komentar Bunda itu Aim spontan menyanyi ditempat “ Terimakasih Cinta, untuk segalanya…” duileh? Afgan bangeeed. Bunda bersama tiga petugas optik tertawa akan tingkah Aim. Sedang Abang yang teler kecapekan sekolah sambil berpuasa, cuma nyengir melihat gaya Adiknya yang flamboyant.Hih Aim.. ampun deeeh.
Monday, August 11, 2008
Aim dan Asma
Terbayang Aim-kecil mungil-kesayangan Ayah. Pucat menunggu antrian dokter. Bunda segera mengiyakan, sambil berpesan, Aim pulang aja dulu, nanti sore jemput Bunda sama sopir, sekalian ke dokter.
Sorenya, Bunda dan Aim ke RSPI, "udah dapat No 18, tapi antrian pagi, apa sekarang musti ngantri lagi? " tanya Bunda sedikit cemas Praktek GP sore di RSPI. panjang juga euy. "Tungu dua pasien lagi, ya Bu. Nanti saya sisipkan." Bunda berbisik " terimakasih" well, mungkin tante suster kasih liat Aim yang udah kecapekan batuk terus.
Sesuai janji Suster, setelah menunggu dua pasien, AIm dipanggil masuk ruang dokter, diiringi tatap heran pasien lain, ih? kayaknya kita duluan deh. Yeaah, sori deh bu. Kita udah antri dari praktek pagi.
Bu dokter memasang stetoskop di dada Aim yang kurus. "Duh Nak, kok paru parunya berisik betul?". Aim didiagnosa Asma. Bukan kejutan. Sejak Bayi memang dokter nya bilang begitu. Masa Bayi Aim banyak dihabiskan diruang Nebulizer, untuk membantu memperlancar pernafasannya. Soal Aim yang Asma bukan kejutan lagi bagi Bunda. Mengingat Bude Ary dan segudang sepupu Bunda dari pihak Bapak mengidap penyakit genetis yang sama ini. Seorang sepupu sampai meninggal, dan banyak juga yang akut -dan bolak balik masuk RS- seperti Bude Ary.
Dokter meresepkan obat semprot dimulut untuk dipakai saat sesak nafas. Bunda cukup familiar, karena Bude Ary juga pemakai setia obat semacam itu, tapi Aim protes "Kok obatnya kayak buat opa opa?"
Bunda tertawa. Ah, Aim...emang asma identik dengan opa opa? Ngga banget lagee..Kakak kandung Bunda dan banyak sepupu kami divonis mengidap asma sejak usia belia, sama seperti Aim kini.
Sabar sayang, ya. Rupanya Aim tidak hanya mewarisi kuping caplang, wajah oval, jari lentik, bibir tipis, mata belo, dan bulu mata panjang Bunda, tapi juga sesuatu yang tak kasat mata, kelainan genetis yang resesif buat Bunda namun muncul buat Aim. Berkebalikan dengan Mbak Ary yang asma akut, namun -alhadulillah-punya empat anak tanpa asma.
Smoga Allah, selalu menjaga kesehatan Aim, dan melindungi Aim agar dapat menikmati hidup penuh syukur, walau mengidap penyakit Asma, seperti yang telah dijalani oleh Bude Ary dan banyak sepupu Bunda yang lain. Amin.
Friday, July 11, 2008
Happy Birthday, Ayah!!
Happy Birthday, Ayah!! cup..cup..muach!!Aim dan Raihan rebutan cium si Ayah.
Tante Nana dan Oom Hilman plus Sabrina jadi ikut ketawa
the complete team, seru dan ruame...Bunda dengan dua adik,
Ayah juga dengan dua adik..
Plus Uti dan para keponakan
Abang, Oom Bram wanna beUdah banyak miripnya.
Tinggal tunggu Abang berjengot. Hiiih..
Duo OrangeTante Susi dan Oom Khalid, kompak selalu
Mom and MeUti dan Bunda
Mamah dan aku
Mirip? alhamdulillah punya Mamah cantik!
dasar Bunda narsis..
Sister with Sister in-lawTemen jalan, shopping,
curhat, ke salon.
Bersama dalam suka dan suka..weiiks!
Ajak ajak doong
Saturday, July 05, 2008
Liburan ke Jambi
Sebelum turun, Aim menyempatkan foto bersama Oom Pilot. Sayang Aim berkacamata, so? ngga papa ngga jadi pilot ya..Yang penting tetep gaya euy...
Hobby nonton "Airplane Crash Investigation" di teve kabel, bikin Abang agak agak paranoid naik pesawat. Hih, Abang...kan justru jadi punya pengetahuan lebih soal pesawat. No more parno ya
"The Ruswandi" 5 dari 6 cucu laki laki Papah RuswandiHebatnya, 6 cucu laki laki dari 3 anak laki laki
two kids, each!!
Kika-urut kecilHariz (Dhani) Ruswandi
Kaka (Herry) Ruswandi
Aim (Eddy) Ruswandi
Aritzi (Herry) Ruswandi
Iqbal (Eddy) Ruswandi
Bergaya di peninggalan bersejarah,Candi Muaro Jambi

Depan kantor gubernur Jambi
Berfoto bersama relief sejarah propinsi
Sepucuk Jambi, Sembilan Lurah

Sarapan bubur depan alun-alun
enak dan murah!!

Satu nenek, lima cucu
Kewalahan? cung kediro!
Banyak cucung, badan saro
he..he..

The last one..
penyandang dana dan sponsor
acara liburan seru
Wednesday, June 18, 2008
Cium Pipiku, Please
“Iqbal, cium Bunda dong”
Cup, abang mencium sebelah pipi Bunda
“Iqbal, yang satu juga dong..kalo ngga ntar Bunda jalannya miring…pipi yang satu dah dicium, yang satu belum” kataku becanda sambil menelengkan kepala kesamping.
Abang biasanya lalu memeluk leherku, Mencium pipi Bunda yang satu lagi sambil bertanya dengan manis“ pake cium tikus ngga Bun?”
“Iya dong” kataku tertawa
Yang dimaksud cium tikus adalah cium sampai berbunyi ciup..ciup kayak tikus gitu lho. Hah! Sekarang dia sudah besar, sudah susah kalo diminta dan mau dicium. Malu lagi Bun, Abang
“Cium pipi, Bunda Please..”
“Ogah ..you know…”
Duh Aim? I love you..you know..
Sunday, June 15, 2008
Abang dan kartu EHB
Bulan Juni begini. Musim EHB anak sekolah. Aim dengan bangga bilang” Aim sudah punya kartu EHB” Sedang Abang menyulut kemarahan Ayah dengan membawa pulang
“Bukan salah bu Guru Aim atau pak Guru Abang lagi..yang salah tata usahanya” kata Abang membela pak gurunya.