Tuesday, August 21, 2007

Matahari Hatiku..

Tahun ajaran baru sudah dimulai juli lalu

Smoothkah? Tidak Juga. Awal sekolah, pagi hari selalu diwarnai dengan debat “siapa diantar duluan ?”. Matahari pagi seakan menularkan semangat anak anak pergi sekolah.

Abang yang lebih antusias sekolah ngga pengin telat, disatu sisi sekolah Aim lebih jauh dan berlawanan arah dengan sekolah Abang. Abang ke Ciputat. Sedang Aim ke pondok pinang. Bunda Pusing!! Sepertinya perkara selepe, tapi Bunda tak ingin salah satu merasa di'anak tiri'-kan.

Awalnya kami prioritaskan Abang. Jadinya Bunda dengan tebal muka beberapa kali mengantar Aim yang telat ke kelas Belum lagi Aim bete habis kalo jalan padat merayap. Kadang kita sampai turun sebelum sampai sekolah dan jalan kaki,soalnya mobil ngga bisa tembus kemacetan. Piuh! Lama lama Aim ngambek, untung ngak sampe mogok sekolah..

Satu pagi – jam enam dari rumah- dicoba rute baru Aim diantar duluan. Dengan cemberut Abang patuh kata Bunda. Alhamdulillah nggak telat. Cuman Bunda aja mondar mandir kayak setrikaan soalnya kantor Bunda sebetulnya deket banget sama sekolah Aim. Tapi kalo Bunda di drop setelah Aim…waaah bisa bisa Abang ngamuk karena telat.

Berkali kali uji coba begitu, keduanya ngga telat. Namun emang Aim terpaksa datang pagi banget sedang Abang selalu pas pasan. How about Bunda? At the end ternyata paling enak dengan kondisi ini. Anak anak cukup berangkat sendiri sama supir. Antar Aim lalu Abang trus pulang lagi karena sekolah Abang memang lebih dekat ke rumah

Jadi Bunda sekarang nggak perlu buru buru pergi pagi. Setengah delapan dari rumah juga masih bisa nyampe kantor tanpa telat Uhm Thanks Kids. Belajar yang rajin ya, sayang...Love and proud of you both!! You’re the sunshine of my life

…Matahari hatiku…
Membuat cerah…Hari hari sedihku..

Monday, August 20, 2007

Satu Panggung Merah Putih

Hari sudah menjelang Isya saat Ayah dan Bunda sampai rumah. Ayah pulang golf dan Bunda baru kelar urusan kantor. Padahal ini weekend. Satu sabtu di bulan Agustus.

Sejak dijalan anak anak sudah menephon. Mereka sibuk bersiap untuk tampil di acara tujuhbelasan Komplek kami. Rumah sudah kosong saat kami tiba, makanya kami segera menyusul ke lokasi acara.

Kompleks kami adalah kompleks pensiunan yang sudah 30 tahun berdiri. No wonder semangat untuk merayakan tujuhbelasan begitu kurang. Sakit dan kelelahan hari tua membuat mojoritas tetangga kami memilih istirahat dirumah. Jikapun kali ini ada perayaan, seperti tahun tahun belakangan dimotori oleh para remaja yan merupakan cucu cucu penghuni komplek ini. Dengan budget yang terbatas, sebuah pangung berbendera merah putih di gelar depan aula, di lapangan basket komplek kami.

Untung Ayah Bunda sempat menyaksikan saat Abang dan Aim tampil. Dengan seragam paduan suara yang seadanya, pokoknya atasan merah dan rok/celana putih mereka menyanyi di panggung. Cukup surprise juga melihat Abang dan teman2nya dibarisan belakang Bersama teman teman sebayanya yang sudah SMP.Sedang Aim menyanyi dibarisan depan bareng gang mainnya yang sering lebih banyak becanda daripada seriusnya.

" Emang dimana mereka latihan?" tanya Bunda pada perempuan sebaya disebelahku-yang juga teman main Bunda saat kecil

"Kan dirumah lu. Pokoknya kalo kita liat carport dua mobil itu kosong, langsung deh dipake latihan"

Bunda bengong. Ah? Masa sih? ih, sungguh terlalu deh Bunda nggak tau!! Maaf anak anak, kesibukan dikantor emang telah menengelamkan Bunda

Kembali soal pertunjukan pangung merah putih kali ini. Mereka cukup kompak menyanyi "Hari Merdeka", "Sabang sampai merauke" dan terakhir "aku anak Indonesia". Aim terlihat sangat antusias-maklum doi kan banci tampil, sedang abangnya lebih cool. Uhm, satu panggung merah putih telah memberikan kesempatan mereka menyanyi bersama.Mengumandangkan kebanggaan jadi anak Indonesia.

Merdeka !!

Saturday, August 11, 2007

Aim sang Entrepreneur cilik

Aim dan Abang. Emang beda!!

Abang nggak pernah demanding sedang Aim menuntut banyak. Beli ini. Beli itu. Kesini. Kesitu. Seakan Ayah Bunda punya pohon uang yang ngga ada habisnya. Namun there is a good thing about Aim. Dia mau usaha cari uang sendiri. How’s that??

Berawal tahun 2005 saat Bunda mulai jualan fried chicken di kantin SMP Alix, sebelah stand Bunda jualan pop ice. Laris Manis. Saat itu Aim yang masih duduk di TK kecil tertarik. “Kita jual pop ice juga yuk Bun…”

“Dimana ?“ tanya Bunda, sebab sudah ada kesepakatan dalam kantin tersebut tidak boleh menjual product yang sama.“di rumah lah”jawab Aim cepat.

Bunda setuju. Bunda lalu membeli pop ice aneka rasa. Sedotan besar. Gelas plastik. Blender dikeluarkan dari dapur. Meja kecil dikeluarkan dari gudang.



Dicarport, ditengah antara parkir mobil ayah dan mobil bunda Aim mengelar dagangannya. Blender. Gantungan sachet popice aneka rasa, sedotan besar. Gelas plastic Didisplay di atas meja kecil. Bunda dan Aim yang menata. Cukupkah? Belum.. sebuah signage yang ditempel di pagar melengkapi project Aim kali itu.

Siapa target marketnya Aim? Temen temen Abang lah!! Ternyata betul, jualan Aim mendapat sambutan positif. Temen temen Abang yang kecapekan habis main bola, antri membeli. Emang Aim udah bisa bikin pop ice? Ya nggak lah!! Mbak Isti dikaryakan.

Dengan senyum senyum geli Mbak Isti membantu anak asuhnya melayani pembeli. Aim yang berpromosi sedang Mbak Isti dibagian produksi, merangkap kasir, merangkap bagian keuangan. Bunda geli. Duh Aim? Keuntungan jual pop kan tidak sebesar gaji Mbak Isti.

Bunda cuma mengawasi kegiatan Aim dibantu Isti dari dalam rumah. Senyum senyum geli dengan banyak komentar yang didengar. Seorang nenek tetangga mengantar tiga cucunya beli pop ice. Beliau menggoda “Wah Aim, Jualan pop ice buat beli mobil ya?” sambil melirik mobil ayah yang “cling”. Aim bilang “Iya dong”. Dalam kamar Bunda ketawa sampe sakit perut. Duh Aim? Jual pop ice mana bisa beli mobil.

Anyway kegiatan Aim jualan pop ice ini membuat bangga Ayah dan Bunda. Setelah dua bulan berjalan, akhirnya berhenti. Yang beli sudah jenuh. Yang jual sudah Bosan. Ya sudahlah. Mbak Isti menutup dan membereskan project Aim itu.

Kini-tahun 2007, Aim sudah kelas satu SD. Musim Panas datang, disambut dengan musim layangan. Aim melihat peluang bisnis baru. Dia merayu Ayah membeli layangan dan benang dalam partai besar di grosir dekat rumah Uti condet. Ayah membeli 50 layangan dan 5 gulung benang sebagai awal.

Ditempat yang sama. Meja yang sama. Aim mengelar dagangan yang berbeda. Kalo dulu Bunda bantu menata, kali ini Aim kerjakan seniri. Dua buah box bekas indomie diletakan diatas meja. Satu berisi layangan. Satu berisi gulungan benang. Sebagai “pemanis“Aim menaruh beberapa mainannya dimeja itu. Boneka. Mobil2an. Tak lupa sebuah celengan bergembok disiapkan. Buat tempat uang katanya.

Aim lalu ketak ketik di computer nulis pake word AIM JUAL LAYANGAN. Diprint hitam putih. Namun dia belum puas. Aim lalu merayu Bunda.”Bunda, bikinin pengumuman Aim jual layangan dong. Yang bagus ya”.

Bunda dan Aim lalu duduk depan computer. Ketak ketik di power point sambil ketawa tawa memilih gambar. Akhirnya jadi sebuah signage tentang Aim jual layangan.

Siapa target marketnya kali ini? Teman –temen Abang dan temen temen Aim. Laris manis. Abang yang tadinya nggak perduli, bantu bantu Aim menjual Layangan. Maklum sekarang kan sudah tidak ada Mbak Isti yang mengasuh Aim. Berita Aim jual layangan segera tersebar, pembeli bukan saja anak anak dalam Komplek, tapi juga dari luar Komplek.

Dalam dua hari weekend stock layangan menipis cepat. Senin siang Aim menelphon Ayah dengan panik “ Ayah, layangannya habis tapi masih ada yang mau beli. Gimana nih? Ayah beli lagi dong!!”

Bunda tertawa geli. Duh Aim..keuntungan jual layangan nggak sebandng sama bensin Ayah ke condet buat beli layangan. Tapi Ayah tak ingin Ayah kehilangan semangat. Ayah membeli lagi 100 layangan buat project Aim jual layangan.

“Assalamualaikum…”
“Walaikum salam…cari siapa?”
“Mau beli layangan tante…”
“Aim!! ada yang beli layangan tuh..”
Aim segera ngacir kecarport. Jual layangan.

Ah Aim, Ayah dan Bunda bangga pada Aim sang Entrepreneur cilik yang diusia dini mau belajar cari uang sendiri, walau dengan berjualan layangan.

“Aim uang hasil jual layangannya mana ?” tanya Bunda
“Buat beli teh botol di warung Bun..Aim kan cape” kata Aim santai
Bunda memeluk Aim. Ah, Aim emang pinter banget!!

Friday, May 18, 2007

Abang dan Bike To School

Setelah menjalani test dan wawancara selama 2 hari yang melelahkan, Akhirnya Iqbal di terima di SMP Tsanawiyah Pembangunan – Ciputat. Sekolah ini dibawah managemen Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta. Walau awalnya Bunda ragu karena sekolah itu berlokasi di Ciputat Banten, tapi setelah sekolah tersebut menjelaskan bahwa secara administrasi mereka masuk ke DKI, baru Bunda setuju untuk menyekolahkan Iqbal disana.

“Sekolah itu bukan soal DIMANA, tapi GIMANA” gegitu sharing seorang teman sekantor Bunda. Perempuan cantik yang tinggal di Bintaro Sektor 9 itu menyekolahkan putra tunggalnya nya di Sekolah Pembangunan JAYA. Satu satunya sekolah yang dibangun JAYA property untuk penghuni Bintaro Jaya. “

"Dengan bersekolah dekat rumah, anak kita masih punya waktu buat les musik, berenang, main futsall, main sama teman temannya. Pokoknya yang fun fun deh..” katanya lagi. Well, Bintaro Jaya emang udah kayak kota mandiri. Fasilitasnya lengkap. Ugh!! Membuat Bunda ingat impian Bunda untuk tinggal di Bintaro Jaya.

Sekarang, seberapa jauh sekolah SMP Pembangunan itu dari rumah kami di cirendeu? Kalo lewat jalan utama –Lebak bulus I – Ps Jumat- Ciputat Raya sih bisa lima kilo, Lewat jalan pintas Univ Muhamadiyah-Ciputat Raya sekitar 4 kilo. Menariknya kalo lewat jalan tikus..paling cuma 2 kilo. Yup. Bunda dan Ayah udah pernah survey semua rute itu. Walau ribet dan berbelok belok, jalan tikus itu relative sepi, melewati banyak rumah dan ujug ujug sudah sampai di belakang sekolah, ngga pake lewat jalan Ciputat Raya yang rame dan luar biasa macet.

Makanya Ayah tiba tiba come up dengan ide “ Bike to School buat Abang”
“Hah?! Bunda nggak setuju”
“Why not? Sekarang ngetrend lagi Bike to work. Kalo mungkin Ayah juga pengin bisa Bike to work”
“No..No..jangan macem macem deh..kita punya extra mobil..kita punya supir..jangan pernah pikir buat bike to school apalagi bike to work.” Gimana kalo hari hujan, gimana kalo keserempet mobil. Gimana kalo jatuh ? Duh? Nggak deh!! Setelah debat panjang-seperti biasa- Bunda selalu speechless. Ayah terlalu otoriter buat dibantah.

Abang di sounding soal wacana bike to school-dasar anak Bunda-Iqbal menolak. Walau dia tau dengan bersepeda dia tak akan tergantung pada supir /jemputan, dia bisa kemana mana sendiri namun dia merasa belum siap untuk itu. “Iqbal takut kalo nyasar. Habis jalanya mbulet banget“ begitu alasannya

Bunda bilang ke ayah “ I know him better than you hah?” Gantian Ayah yang speechless. Begitulah. Walau Ayah otoriter dirumah, tapi kami tetap menyerahkan keputusan soal bike to school kepada Iqbal karena dia yang akan menjalaninya. Pada akhirnya Bike to School memang hanya sebatas wacana.

Tuesday, May 08, 2007

Abang, Aim dan Nomat

"Ibu beli buat besok?" Begitu Bapak yang antri disebelah Bunda bertanya heran..
Bunda mengangguk sambil mengulurkan uang ke petugas ticket 21. Hari minggu itu 4 studio di PIM1 dan 2 studio di PIM2 memutar spiderman3. Saat itu baru jam satu tapi semua tiket sudah sold out. Tinggal buat yang jam tujuh. Makanya Bapak sebelah Bunda tadi jengkel. Lama banget kan kalo musti nunggu??

Bunda sih udah pengalaman yang begituan. Makanya Bunda sengaja datang cuma beli tiket. Nontonnya mah besok aja. Hari senin kan bisa dapat harga nomat. Nonton hemat. Lumayan bertiga “cuma” empat lima ribu.

Seninnya, Bunda dan Aim menjemput Abang disekolah, lalu meluncur ke PIM1. Anak anak protes. "Kok paling belakang Bun?!" Hush ini paling enak lagi. Studio penuh ampe depan. Isinya anak anak ABG yang pulang sekolah. Mereka bahkan masih pake baju seragam sekolah. Nonton Hemat. Emang sangat menarik buat para teenage itu.

Spiderman3 emang film remaja, untuk ukuran anak anak terlalu banyak cium, dan adegan “remaja” yang lainnya. Abang dan Aim antusias menonton. Paling seru kalo lagi adegan action. Waaah aim ampe tepuk tangan segala. Tapi nonton bareng ABG emang norak. Adegan cium di suit suitin. Adegan lucu disorakin. Adegan nangis malah diketawain. Duh? ABG ekspresif sekali sih??

Seru bang? Abang mengangguk. “Musuhnya tiga” kata Bang nyaris tak berkedip saat adegan laga. While lucunya Aim selalu tutup mata kalo ada adegan cium di layar lebar. Ehm, malu ya ??
Akhirnya.. yeah kita harus banyak maklumlah. Ini film remaja dan anak anak. Jagoan selalu menang. Musuh selalu kalah. Hitam dan putih. Belajarlah memaafkan. Belajarlah cinta damai. Belajarlah tolong menolong, Belajarlah untuk jantan dan tidak main keroyokan, Terakhir belajarlah untuk tidak naksir pada pacar sahabat ndiri (weeeiks..basi banget!!). Uhm ini sebuah film tentang superhero namun kental berisi pesan akan cinta damai.

Habis nomat enaknya ngapain ? Jajan dong Bun!! Weiiiiiks..Nontonnya mah hemat..jajannya boros. Namun Okelah sebelum pulang kita parkir di Bakmi GM. Uhm..Yummy..!!

Friday, May 04, 2007

Aim di Bogor, Abang di Jakarta

Bunda dan Aim mengedrop Ayah di lobby hotel. Kami melambai pada Ayah yang mau ikut workshop dua hari di Novotel Bogor. Mobil yang dikemudikan supir kami sudah sampai terminal baranangsiang saat Ayah menelphon “ Eh, Ayah dapat kamar sendiri nih. Ikut nginep yuk”. Aim langsung antusias. “Aim pengin Bun…Aim pengin”

Uhm, Bunda mikir mikir. Kasihan Abang euy. Kami memang ngak ada rencana ikut nginep, karena pikir Ayah bakal sekamar dengan Oom Bram, seperti kejadian saat training sebelumnya. “Nanti Bunda kabari..Bunda tanya abang dulu”. Aim dan Bunda meluncur ke Internusa buat makan siang. Bogor macet. Males jauh jauh. Cape main prosotan di AW. Aim ketiduran dipangkuan Bunda. Duh? Bunda kesemutan nih sayang..kelamaan duduk di Internusa.

Hari sudah sore saat Bunda menelphon Abang “ Bang..Aim sama Bunda mau nginep di Bogor ..gimana ? boleh Bang?
“Uhm..Besok Oom Heri (supir) datang pagi buat nganter abang sekolah nggak ?” tanya Iqbal
“Ya iyalah…nganter abang sekolah dulu baru siangnya jemput ke Bogor lagi” jawab Bunda
“Kalo gitu…Iya deh ngga pa pa…” jawab Abang.

Bunda merasa lega sekaligus heran. Lega karena Abang sudah berani ditinggal dirumah sama dua orang PRT. Heran karena…kok? Dia seakan lebih butuh supir kami dibanding Bunda ? Ah sudahlah…Bunda dan Aim lalu pergi ke Giant. Belanja baju tidur. Sikat gigi. Susu. Snack.dan pernak pernik lain. Ugh! begini deh kalo nginep tanpa preparation, tapi bagaimanapun spontanitas memang seru juga..

Setahu Ayah tidak semua peserta workshop dapat jatah kamar sendiri. Sebagian besar sharing berdua berdua. Makanya Bunda menelphon Oom Bram.”Papi sekamar sendiri?” Oom Bram menjawab pendek “ Ya..” Bunda becanda “ Malem ini titip Aim dong…”
Oom Bram menangapi serius “ Boleh..” Bunda ketawa..hih!! manalah kuat bayar fee babysitter kalo Oom Bram yang jagain Aim. Jangan jangan chargenya in US$..he..he..just kidding Bro..

Pagi paginya kami sarapan bareng. Ayah, Bunda, Oom Bram dan Aim. Beragam makanan tersedia, tapi melihat pilihan sarapan yang diambil Oom Bram sama persis dengan Bunda membuat Bunda berkomentar “I guess we grown up In the same familiy ..didn’t we ?" Oom Bram cuma nyengir…

Ayah dan Oom Bram segera pergi workshop usai sarapan. Aim lanjut berenang di kolam renang anak anak. Bunda cuma duduk nungguin. Uhm, sebetulnya kangen juga buat ikut berenang. Tapi sekarang, manalah mungkin ?? Aim bilang airnya dingin banget ..padahal pagi itu cerah ..sebetulnya serunya berenang di novotel Bogor adalah kalo pake bonus air hujan.. weeeiks!!

Habis berenang, balik ke kamar Aim ketiduran. Bunda duduk duduk di balkon kamar, menikmati kehangatan matahari pagi kota Bogor. Setelah Aim bangun Bunda berkemas dan langsung chek out. Begitu supir datang kami meluncur beli asinan dan roti unyil buat oleh oleh si Abang. Jalan Tol Bogor Jakarta sangat lancar. Dalam satu jam kedepan kami sudah sampai Jakarta. Nginep di Bogor tanpa diplanning jadi pengalaman seru buat Aim…

Saat malamnya Bunda dan Abang makan asinan bareng. Sepiring berdua. Bunda tanya “ Iqbal kok lebih Butuh Oom Heri dibanding Bunda?” Iqbal menjawab dengan tangkas “ Bukan begitu Bun…Iqbal tau nginep di hotel pasti enak….makanya ngga papa Bunda sama Aim nginep…Tapi kan Iqbal harus ada yang nganter sekolah..makanya nanya Oom Heri tetep datang pagi nggak?” Duh? Bunda terharu deh..ternyata Iqbal sudah bisa berjiwa besar...

Dan kekhawatiran Bunda bahwa Abang tak lagi butuh Bunda segera pupus, saat malamnya Abang bobo sama Bunda dia bilang “ Bunda... peluk dong…” Bunda tersenyum. “Udah gede…udah mau SMP..masih aja seneng peluk Bunda” Iqbal menjawab dari balik selimut “ habis.. enak sih…”

Thursday, May 03, 2007

Aim di hari Kartini

"Bun, kalo orang di amerika nggak punya baju daerah ya??” tanya Aim dengan lugu. Satu siang pulang sekolah dalam mobil karimun Bunda. Bunda speechless. Apa Iya Aim dah mudeng diceritain soal migrasi orang orang eropa ke benua baru bernama amerika…dan membentuk sebuah Negara besar yang bernama amerika kini, Ah, Aim pasti belum bisa nyambung. Makanya Bunda menjawab sepintas “Ya. soalnya daerahnya hampir sama”

Kenapa Aim concern soal baju daerah ? soalnya saat itu Bunda dan Aim on the way ke sebuah tempat penyewaan baju daerah untuk anak anak. Hari kartini sebentar lagi. Sekolah Aim bikin acara peragaan busana daerah. Dan siang itu kami meluncur ke cilandak hunting baju daerah.
“Mo pake baju apa Bu?” tanya petugas disana
“Apa ya ? yang nggak susah deh.. tahun lalu dia dah pernah pake baju jawa ugh!! Ribet” keluh Bunda



“Apa ya ?” Mbak petugas ikut bingung. Anak anak pake baju daerah. Pastinya ribet.
“Madura ada?” tanya Bunda. Rasanya simple tuh
“Waah Cuma satu dan udah dipinjam. Lagian kekecilan kalo buat si adik”
“Dayak gimana?”
“Ya..ya..ada beberapa pilihan warna dan ukuran..yuk dicoba”
Akhirnya kami pulang membawa satu stel baju dayak berwarna hitam. Alhamdulillah kayaknya sih nggak ribet.

Hari H tiba. Ayah mengantar Aim ke sekolah, Bunda menyusul. Wow…salut!! Hampir semua anak dari semua kelas berpakaian daerah. Mulai dari jawa, padang, bugis, batak, betawi, madura, dayak, bali, bahkan ada yang berkostum polisi, cinderela dan pak ustadz.

Senang rasanya melihat bocah bocah yang masih imut imut itu memakai pakaian daerah beraneka ragam. Kebaya Kartini dan baju bodo jadi favorit anak perempuan. Sedang pakaian jawa dan abang betawi jadi favorit anak laki laki. “Hey..ke salon jam berapa ? “ tanyaku mengoda mama si Anya. Cewe kecil yang sering berantem sama Aim itu cantik bersanggul dan pake baju kartini, while si Putri yang jadi favorit Aim pilih pake baju bodo.
” Ma..Justin nggak mau pake rok ma..” Bunda geli mendengar cerita tentang Justin yang menolak pake kain beskap.




































Peragaan Busana dimulai. Diawali dengan tampilnya anak anak play group yang imut imut mengemaskan. Ugh!! Cantik cantik banget. Hih Bunda jadi berandai andai..seneng kali ya punya anak cewe. Bisa didandani kayak boneka…

Berikutnya anak anak TK A dan B yang sudah lebih besar. “Assalamulaikum..” seru seorang anak berpakaian abang Jakarta sambil mengangkat tangan dan mulai melangkah ke atas “catwalk” . Ibu ibu tertawa bangga ..duh? Abang Jakarta wanna be nih…

Kelas Aim B4 tampil paling belakangan. Setelah cewe cewe in action. Giliran Justin, Oza, Kinen, lalu Aim, disusul beberapa nama lagi. Anak anak itu berjalan dengan malu malu lalu memberi salam pada juri. … waaah kami berebut memfoto dari dekat….senyum sayang…senyum…hih heboh deh…

Gemas..gemas..itu yang Bunda rasakan melihat Aim dan temen temen berpakaian daerah di hari kartini. Melihat belasan gadis cilik cantik apik berpakaian baju bodo, kebaya kartini, baju bali, membuat Bunda kembali berandai andai..ah, menyenangkan kali ya punya anak perempuan. Bisa didandani kayak boneka. hey Aim…mo punya adik cewe nggak ??

Friday, April 20, 2007

Aim ke Ancol..

Ke Ancol. Aim sudah antusias sejak seminggu sebelumnya. Sekolah Aim merencanakan pergi ke ancol di di penghujung tahun ajaran ini. H-1 malam harinya Aim bilang "besok bangunin jam 4 ya Bun..supaya nggak telat kumpul disekolahnya" Hih. Aim yang sering telat datang ke sekolah, tumben banget begitu antusias buat sekolah.."What ? jam empat ? sekolah masih sepi lagi..."

Kamis pagi, Bunda dan Aim sudah stand by di TK Adhiyaksa Lebak Bulus. Lima bus sudah siap. Tiga bus untuk bu guru dan anak anakTK A dan B. Dua bus untuk para Ibu dan adik adik usia play group yang ingin ikutan. Aim di bis no 3. Bunda kebagian di bis no 5.

Agenda sekolah hari itu adalah pergi ke gelangang Samudra Jaya Ancol. Pertama rombongan kami melihat pentas singa laut. Bunda melihat dari jauh Aim bertepuk tangan gembira bersama teman temannya melihat betapa lucunya sepasang singalaut yang beratraksi. Berikutnya pindah ke pentas aneka satwa. Jumlah rombongan tidak sebanding dengan kapasitas yang ada. Bunda terpaksa berdiri dibelakang sedang Aim dan teman teman yang nggak kebagian duduk jongkok persis di pinggir pembatas pentas dan penonton. Sebuah pagar kaca menjaga agar pecikan air di pentas tidak membasahi penonton. Walau sudah basah berkeringat, Aim enjoy aja tuh..

Pertunjukan ketiga adalah pentas lumba lumba. Kali ini tempatnya luas. Pertunjukannya juga paling seru. Banyak kejutan. Anak anak senang. Terbahak bahak melihat seorang ibu disembur si lumba lumba. Setelah usai Aim bergandengan tangan dengan bu Guru dan teman teman menuju taman yang luas. Saatnya break. Take lunch. Anak anak mendapat paket McDonalds..sedang Ibu ibu pengembira dapat nasi padang. Sedaaap.. piknik bareng dibawah terik siang matahari ancol..

Setelah usai makan siang. Kami berbaris untuk masuk ke theater 4D. Antrian puanjang banget soalnya berbarengan dengan banyak rombongan dari sekolah lain. Ibu guru memberi briefing "Anak anak yang ada mamanya, digandeng sama mama ya.. kalo mama ato mbaknya ngga ikut..boleh gandeng bu guru.." well, kami maklum kondisi begitu crowded. Jumlah guru tak sebanding dengan anak anak. Akhirnya para murid mengantri bersama ibu masing masing.

Nyaris satu jam dalam antrian. Balum juga dapat giliran. Untung anak anak itu saling meledek dan berceloteh menghibur ibu ibu yang udah bete kecapekan. Seorang teman yang udah agak depan berseru "Ibu hamil nggak boleh masuk". Segera 5-6 Ibu dalam rombongan kami menitipkan anaknya ke Ibu lain dan keluar dari barisan. Aim cemas "Bunda nggak hamil kan? " tanyanya lugu. Dia mungkin takut kalo Bunda keluar barisan. Ibu ibu di dekat kami tertawa. Hih Aim, dengan perut nyaris rata gini (ehm) masa sih dibilang hamil ??

Akhirnya sampai juga giliran kami. Waaah!! ternyata bagus. Dengan kacamata khusus..binatang yang ada di layar seakan begitu dekat. Mereka serasa melompat keluar dari layar. Bunda paling serem waktu ada ular menjulur mendekati penonton. Meludah. Cuiiiih !! ih, berasa ada air mercik di muka. Rupanya didepan setiap kursi ada semprota air khusus yang pas di muka. Ugh!! seru..Kalo Aim pling seneng saat "Bun..Aim bisa tangkap ubur ubur..." wah pokoknya norak deh. Maklum ini pengalaman pertama kami.

Hari semakin siang kami bersiap pulang. Sebelum berpisah bis Aim bilang "Bun...kapan kapan kita ajak Abang ke 4D ya.. pasti Abang juga seneng" Ah, rupanya Aim sayang sama Abang. Saat bersenang senang dengan teman teman dan Bunda, dia tak lupa akan Abangnya...

Lima bis kembali meluncur ke TK Adhyaksa Lebak Bulus. Membawa anak anak dan ibu ibu yang udah teler kecapekan. Terimakasih bu guru..jalan jalan ke ancol ini pastinya berkesan buat Aim dan teman teman...