Sunday, June 15, 2008

Aim dan politikus

Berbeda dengan Abang yang susah sekali menyebut apa cita-citanya. Aim justru punya banyak cita cita. Hanya saja cita citanya itu berubah terus. Tergantung mood kayaknya, dari mulai anak band, pilot, presenter sampe dokter.

Satu hari, karena mengejar meeting pagi, Ayah mengantar Aim ke sekolah-bersama supir. Dijalan Ayah iseng bertanya ,” Aim kalo udah gede mau jadi apa?”
“Walikota, politikus” kata Aim enteng.
Ayah mengamati serius. Jadi walikota umumnya memang harus berangkat dari politikus. Dari mana Aim tau?” Emang Aim tau politikus?”

“enggak..Aim denger aja..”
Berikutnya Ayah menjelaskan panjang lebar tentang apa itu politikus. Orang orang yang memiliki ambisi tertentu sehingga harus berpolitik ini itu..bla..bla..bla..pokoknya topik yang serius banget deh.Aim cuma menangapi pendek, “ tapi kenapa ada TIKUS-nya?”

Waduh?? Ayah tersadar, dirinya tidak sedang berdiskusi dengan teman temannya dikala hangout.. Aim masih terlalu kecil untuk memahami dengan baik konsep politikus. Sebab ternyata yang dia ingat cuma kata “tikus”-nya.

Ayah cuma bisa nyengir. Ayah sudah susah payah menjelaskan melebihi apa yang Aim mampu cerna, ternyata Aim Cuma pengin tau satu hal sederhana, soal tikus dikata politikus. Ah, Aim..jalan masih panjang buat banyak belajar, sayang…Ayah Bunda dukung kalo Aim mau jadi walikota..politikus, apapun..asal jangan jadi tikus..he..he.

Sunday, June 01, 2008

Aim dan SMS Misterius

Satu jumat sepulang kantor, Aim memeluk Bunda erat erat dengan tampang cemas. Hey? What happened kid? “Bunda, kalo ada sms warna merah, atau telp dari nomer yang warnanya merah, jangan diangkat ya”

“Maksudnya”
Dengan bahasanya yang sederhana, dia mengulang cerita yang didapat dari Mbak Ria dan Leha, para pembantu kami, bahwa ada sms yang bisa mensantet dari jauh. Kalo sms itu dibalas atau telp itu diangkat, orang tersebut bisa mati. Yup, M-A-T-I…MATI

“Hah? Yang bener?” Tanya Bunda takjub sekaligus geli.
“Iya bener!! Di kampung temen Mbak udah ada kejadian gitu” katanya sungguh sungguh. Aku terbahak. Aim masih menatap Bunda dengan tampang serius

“Pokoknya jangan diangkat!! Aim nggak mau Ayah atau bunda mati” serunya nyaris menangis
“Emang kenapa kalo Ayah mati?” godaku
“Hiks..hiks..nanti siapa yang mau mbenerin sepeda Aim?!” katanya sambil mewek.

Bunda memeluk Aim sambil makin terbahak. Duh? Kasihan betul si Ayah, harapan Aim kok cuma sebatas mbenerin sepeda?
“Pokok jangan diangkat!! Nanti Bunda mati juga” Waah, makin emosi dia.
“Emang Aim sayang sama Bunda?” tanyaku penasaran
“Ya iyalaaaaah..masa ya iya dong” jawabnya nyeleneh.
Separo kesal karena Bunda seakan tidak menangapi serius atas concernnya terhadap cerita sms itu. Bunda terus tertawa dan terbahak. Ah Aim, kamu innocent banget!!

Belakangan Bunda mulai menyadari akan apa yang terjadi. Rupanya ada rumors yang ditiupkan untuk sebuah operator seluler GSM yang baru launch. Amazing. Begitu hebatnya World of Mouth tentang issue itu sehingga Koran sekaliber Kompas-pun merasa perlu membahasnya. Ini cuma persaingan bisnis biasa. Metodologi dukun klenik dan santet belumlah canggih dan bisa merambat melalui telp seluler.

“Aim sekarang nggak pernah pake Hp lagi? Tanya Bunda heran
“Aim takut. Aim cuma mau angkat telp dari nomer-nomer yang ada namanya aja” katanya malas.
“Oh? bagus itu. Memang harus begitu sayang…” kataku bersyukur, waaah, Aim emang pinter. Tiba tiba Hp Esia Aim berdering. Empat digit angka yang tak dikenal. Walau Aim menjerit histeris, namun Bunda bergegas mengangkatnya. Penasaran.

Suara perempuan yang telah direkam menyambutku. Mempromosikan fitur dan benefit dari operator GSM yang baru itu..bla..bla..bosen banget. Hah. No wonder semua operator lama irritate denga cara promosi operator baru itu. Susah susah punya pelanggan, operator baru itu tanpa malu tanpa ragu mengapproach mereka directly dengan menelphon nomer-nomer dari operator yang sudah exist. It’s a brilliant idea actually. Tapi kok rasanya nggak etis ya..berasa kayak ngerayu pacar orang…

Beberapa hari kemudian Bunda menyimak talkshow di radio dari operator telp yang baru launch itu. Luar biasa, betapa powerfullnya world of mouth pelanggan sehingga harus di counter dengan talkshow radio yang pastinya menghabiskan budget yang tidak sedikit.

Eh? Back to Aim dan HPnya. Gimana kelanjutannya?
”Kalo Aim nggak mau pake Hp lagi, Bunda pake aja ya…” pintaku. Lumayan kali. Tidak seperti Halo yang selalu setia dipakai Bunda, Esia kan murah meriah.
“Boleh. Aim jual ke Bunda..tujuh juta aja” katanya acuh tak acuh
Bunda kembali tertawa keras. duh Aim?? dengan tujuh juta, bisa dapat 20 handphone kayak punya Aim, dan kita bisa buka toko handphone kali…

Aih Aim, cuma kamu yang mampu bikin Bunda tertawa lepas. Thanks kid, its really help me release the stress..thanks so much.

Tuesday, February 12, 2008

Abang dan Aim Sholat Berjamaah

Sholat berjamaah dengan Ayah sebagai Imam dan Abang yang baca qomat sih biasa. Yang seru adalah kalo Abang jadi Imam dan Aim baca qomat. Hih..lucu banget.

Satu malam menjelang Isya, Ayah berseru pada Abang sebelum pergi ke Masjid ”Bang, ajak Bunda sama Aim sholat!!”. Abang segera wudhu disusul Bunda dan terakhir Aim. Kami langsung membentuk shaf sholat dikamar, Abang depan, Bunda paling belakang dan Aim ditengah.

”Aim, ayo qomat!!” perintah sang Abang.
Ugh!! gayanya itu lho.. otoriter kayak Ayah
”Uhhhmmm...Aim ngga bisa” rengek Aim
Bunda ketawa, memeluk Aim dari belakang. Lalu Bunda bisikan kalimat qomat yang diikuti Aim dengan lantang. Alhamdulillah, urusan Qomat beres. Abang segera bersiap memimpin sholat.

Udah sering Abang jadi Imam buat Bunda. Perasaan mengharu biru yang Bunda alami sudah tak sedalam kali pertama. Kali ini yang menarik justru polah si Aim. Dengan sarung kebesaran dan tingkahnya yang lucu nyeleneh, membuat sholat Bunda jadi susah konsen, susah nahan geli you know..

”Iiiih Aim, kamu kalo sholat sama temen temen disekolah ikutan geng pengacau ya ? sholatnya ngga serius? ” tanya Bunda.

”Aim kan masih kecil, Bun”
Hey? Pinter ngeles dia. Ah, sudahlah. Emang dia masih kecil. Abang mencium tangan Bunda. Aim mencium tangan Bunda, terakhir Aim mencium tangan Abangnya. Bunda amati mereka berdua dengan perasaan bangga. Yeah sudahlah..Aim memang masih kecil.

Aim dan Kidzania

Ada tiga hal yang selalu dan selalu diceritakan Aim tanpa pernah bosan kepada kawan dan teman temannya. Pertama liburan kami ke singapore hampir dua tahun lalu. Kedua acara operet Bobo ”Bobumba” di JHCC musim liburan lalu dan yang ketiga dan terupdate adalah wisatanya ke Kidzania.

Tempat hiburan baru yang terletak di Pasific Place- Senayan punya tagline ” mau jadi apa hari ini?” ini memiliki concept Edutainment dan pertamakali dikembangkan di Mexico. lho maksudnya piye?? Memang ini bukan tempat hiburan biasa tapi replika kota dimana anak anak bisa belajar tentang profesi orang dewasa. Selama dikidzania anak anak itu disapa dengan sebutan ”Bapak dan Ibu”

Disana ada wahana untuk mencoba jadi pilot dengan banyak cockpit yang disponsori AirAsia, Profesi dokter di Rumah sakit yang disponsori ”Pocari Sweat”, pemadam kebakaran, restorant, salon, bank, pabrik biskuit, polisi, dan banyak lagi yang masing masing disponsori oleh product yang terkait. Istilah marketingnya ”nge-branding”, maklum anak anak adalah future customer , right??

Aim pergi dengan rombongan sekolahnya. Berseragam batik dan jeans mereka berangkat naik bis dari sekolah tanpa orangtua, hanya didampingi Bapak dan Ibu guru. Paling lucu nyimak Aim cerita ”Disana bisa bikin SIM lho Bun, tapi umurnya harus 7 tahun...capek deeeeeh”.
Bunda terbahak, Aim emang masih enam tahun, pantesan emang capek deh!!

”Aim sama temen kan jadi pilot, dari layar keliatan rodanya udah keluar, eh..pas mau mendaratnya nggak bisa, gubrak deeh”
Bunda ketawa, ngebayangin gimana nasib penumpang pesawatnya Aim ya??
”Trus? Ngapain lagi?”
”Ngga banyak, habis semua tempat ngantri”
”Oh? Itu karena musim liburan kali”

”Aim sama temen temen ngeledekin orang yang ada di balik penjara, tiba tiba orang itu bisa keluar...trus Aim dikejar Bun...Aim jadi deg degan” Bunda kembali terbahak, membayangkan keisengan Aim di Kidzania. Ah, masih banyak lagi cerita Aim soal Kidzania, Abang ampe bosen ngedengernya..eh capek deh!!

Sunday, December 02, 2007

Aim dan Kacamata Baru

Satu sore jam pulang kantor, Aim ke RSPI periksa mata. Soalnya Aim sering kali mengeluh perih..perih. Tadinya bunda pikir paling cuma kering, tapi dibantu ditetesi obat yang berfungsi sebagai airmata buatan juga ngga bantu. Akhirnya Aim periksa di dokter mata RSPI.

Setelah melalui serangkaian uji membaca di kursi yang penuh dengan equipment test mata, disimpulkan ada kelainan genetis pada Aim. Perih itu cuma keluhan yang tidak pas. Maksudnya?? Dokter menyebut ini sebagai “lazy eyes” dimana image yang ditangkap tidak bisa pas jatuh di retina “ pake kacamata ukuran berapa pun nggak bisa melihat dengan sempurna” Begitu pak dokter mata bilang.

Bunda speechless. Duh…kalo pake kacamata kan nggak mungkin jadi pilot …sayang ?? Apa solusinya?? Pake kacamata slindris selama 6 bulan. Nanti control lagi kemajuannya. Ukuran slindris Aim langsung diatas 2, itu ukuran yang serius, harus segera dibantu dengan kacamata.

Di optic melawai cabang pondok indah Aim ribut memilih Frame antara snoopy dan mickey mouse..Alhamdulillah.. Aim kayanya nggak keberatan pake kacamata, malah cenderung exciting…penampilan baru ya Aim??

Aim rajin pake kacamata terutama kesekolah. Bu gurunya bilang “Ngga jadi culun kok..malah keren” ugh!! makin senanglah Aim dengan kacamata barunya.

Sempat Bunda mikir…Aim berkacamata remind me of something..apa ya?? Saat Aim pake celana panjang yang ada gambarnya, baru Bunda inget..Chicken Little!! Coba liat gambarnya..mirip kan??..he..he..

Satu pagi Bunda heran…kok mobil yang mengantar Abang dan Aim pergi sekolah baru pergi 5 menit jalan udah balik lagi ??..Heboh!!.Terdengar seruan Aim dari mobil “Mbak!!..Tolong kacamata Aim ketinggalan…. buruan Mbak.... ada di kamar!!”

Ah Aim, mudahan Aim bisa tetap menjalani masa kanak kanak yang berwarna dengan penuh sukacita…. walau harus berkacamata.

Aim dan Big Ears

“Hey..Big Ears”

Begitu Thara biasa memanggil Akbar-adiknya yang baru berumur dua tahun. Biasanya Akbar cuma tersenyum lebar dan mengucap kata favoritnya “ oh..No..” Kami tertawa. Kuping Akbar emang gede dan lebar. Aim nggak mau kalah seru dia ikutan meledek sepupunya itu dengan sebutan “Big Ears”

Bunda geli. Lha wong Aim sendiri juga “Big Ears” kok, soalnya Aim mewarisi kuping Bunda yang caplang bak parabola. Yo piye maneh?? Bunda Aim dan Papi Akbar kakak beradik, no wonder mereka punya Big Ears seperti kami.

Dalam keseharian Akbar hanya bermain dengan –Thara- kakak perempuannya yang anteng. Makanya kalo ada kesempatan ketemu Abang Aim, Akbar antusias banget. Aim udah kayak role model buat Akbar. Semua tingkahnya diikuti. Lari lari..teriak teriak..jumpalitan…ugh!! lincah banget kayak bola bekel.

Kami tertawa melihat polah dua bocah yang sama sama punya Big Ears itu.

Well, Kids…you’re so lucky have big ears…just like us….right Papi??

Abang dan Papi

Banyak yang bilang, Abang kini adalah Oom Bram jaman kecil dulu. Mirip banget. Muka oval, tone kulit sawo matang, mata lebar, alis tebal, hidung mancung. cuma bibir aja yang beda..soalnya Iqbal mewarisi bentuk bibir Bunda yang tipis-sinis. Sedang Oom Bram rada deket sama ttdj..he..he..

Gimana kalo dibalik ? Oom Bram kini adalah portrait Abang saat dewasa. Uhm, bisa jadi ya??. Jadi bisa ditebak akan seperti apa abang kelak…hih?? Penuh bulu gitu?? Bunda memang sering meledek papi dengan Rabul – Raja Bulu – Bukan cuma muka yang harus sering sering shaving tapi kakinya juga penuh bulu. “Kalo kaki nggak ada bulunya, namanya kaki meja” begitu Papi bilang dengan kalem..he..he..

Coba diliat foto Oom Bram dan Abang kini. Lalu bayangin Oom Bram saat kecil dan Abang ketika dewasa kelak….. mirip kali ya??

Aim dan Bandung Super Mall.

Setiap tahun – masih dalam suasana lebaran, Kami selalu ke Bandung. Ayah punya kerabat penting yang harus dikunjungi. Mereka adalah keluarga tempat ayah tinggal saat masa sekolah SMA di bandung. Walau Mamah dan Apa sudah lama sekali berpulang. Namun anak anak mereka yang duabelas bersaudara sudah seperti kakak buat ayah.

Udah tradisi tiap tahun, Aim merengek ke Bandung Super Mall. Sowan, sirahturahmi, adalah hal yang membosankan buat Aim. Makanya sebagai kompensasi ikut ke Bandung…Aim minta ke Bandung Super mall yang punya area permainan besar dan luas.

“Nggak ah, kita langsung pulang aja” begitu ayah menolak. Ayah emang paling males ke Mall, tanpa jelas apa yang mau dibeli

Aim mulai rewel..”BSM..BSM…”
Kalo mau ke “BSM…sama Bunda aja…BSM kan Bunda SuperMall
Aim langsung memeluk dan merayu Bunda “ Ya Bun??…Bunda SuperMall ya Bun??”

Hih?! Aim emang persistent. Akhirnya sebelum pulang Jakarta kami mampir Bunda..eh Bandung SuperMall. Dasar si Aim!!